Membina Hubungan yang Lebih Harmonis dengan Anak Melalui Perselisihan

Perselisihan dengan anak dapat terjadi karena adanya pengendalian yang berlebihan, perbedaan pemahaman, perbedaan pribadi, perasaan salah dimengerti, dan kebutuhan yang tidak terpenuhi. Artikel ini membahas beberapa cara yang tidak tepat untuk menyelesaikan perselisihan tersebut, antara lain: menghindar, mengalah, dan kompromi. Terakhir, diberikan 14 cara praktis untuk memecahkan perselisihan.

Kehidupan rumah tangga pasti tidak akan terlepas dari masalah yang sering kali menimbulkan perselisihan antar sesama anggota keluarga. Perselisihan (cekcok) bisa terjadi antara suami dan istri, maupun antara anak dengan orangtua. Menurut Dr. Carol Rubin, instruktur klinik dari Fakultas Medis Harvard, perselisihan dalam keluarga terjadi karena beberapa faktor, di antaranya seperti berikut ini.
  1. Perselisihan terjadi karena ada pengendalian yang berlebihan. Orangtua yang mengendalikan anaknya secara berlebihan adalah orangtua yang cenderung untuk selalu memaksakan kehendak dan tidak membiarkan anak untuk berpikir dan merealisasikan dirinya sendiri. Hal ini menyebabkan anak merasa tidak nyaman dan perselisihan pada suatu saat akan meledak.
  2. Perselisihan terjadi karena perbedaan pemahaman. Orangtua harus menyadari ada perbedaan masa antara masa lalu dengan masa sekarang. Pola pikir dan pola hidup anak sekarang berbeda dengan masa lalu. Perselisihan sering terjadi karena masalah-masalah sepele. Sepanjang pemahaman anak tentang moral dan budi pekertinya benar maka biarlah anak menentukan pola dan gaya hidupnya sendiri.
  3. Perselisihan terjadi karena perbedaan pribadi. Setiap orang memiliki karakter dan temperamen yang berbeda. Sebagai orangtua kita harus memahami hal ini. Kalau kita menghargai anak kita sebagai pribadi yang utuh dan beda dengan kita maka kelak anak tersebut akan menghargai sesamanya.
  4. Perselisihan terjadi karena perasaan salah dimengerti dan kebutuhan yang tidak terpenuhi. Jangan menjadi orangtua yang terlalu cepat mengambil keputusan dan menganggap anak bersalah. Kita harus belajar memahami mengapa perselisihan terjadi antara kita dengan anak kita. Orangtua sering kali tidak menyadari bahwa anak memiliki kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk mendengar dan menanggapi dengan benar ungkapan hati anaknya.

Pola yang Tidak Membawa Hasil

Beberapa pola yang tidak membawa hasil maksimal dalam menyelesaikan perselisihan.
  1. Menghindar
    Saat perselisihan terjadi dengan anak jangan meninggalkan dan membiarkan anak begitu saja. Dr. Scott Stanley mengatakan: "Hal terburuk dapat terjadi bila di dalam keluarga yang mengalami perselisihan terjadi kebungkaman dan sikap menjauhkan diri." Hal ini menyebabkan anak akan mundur ke dalam dirinya sendiri dengan dua konsekuensi yang bertolak belakang, yaitu:
    1. Ia akan menganggap dirinya yang paling benar dan akan berusaha mempertahankannya apabila cekcok terhadap hal yang sama timbul lagi.
    2. Anak juga bisa menganggap dirinya berada pada pihak yang salah dan kalah. Hal ini menyebabkan anak tidak mampu mengembangkan inisiatif maupun pendapatnya sendiri dengan baik karena menganggap ia pasti salah dan orangtua selalu benar.
  2. Mengalah.
    Orangtua merasa dirinya menang karena anak mengalah atau anak merasa dirinya kalah. Demikian pula sebaliknya. Akhirnya hubungan yang terbina akan selalu diwarnai dengan sikap menang atau kalah.
  3. Kompromi
    Ini hanya solusi yang bersifat sementara karena masih ada situasi kalah atau menang. Hal ini kerap menyebabkan terjadinya kompromi antara kebenaran firman Tuhan dengan pola pikir yang bertentangan dengan firman Tuhan.
  4. Kita harus mendorong anak kita untuk mau menyelesaikan perselisihan di bawah terang firman Tuhan. Kita harus menanamkan pemahaman bahwa setiap orang harus mau dikoreksi dan tunduk kepada firman Tuhan. Orangtua harus menjadi teladan sebagai pelaku firman apabila ia ingin perselisihan yang terjadi dapat diselesaikan sesuai dengan firman Tuhan.

    Empat Belas Cara Pemecahan Praktis

    Cara pemecahan praktis menurut Dr. Garry Smalley adalah sebagai berikut.
    1. Jelaskan dengan benar dan tuntas apa yang menjadi pokok permasalahan kepada anak kita.
    2. Tetap berpegang pada masalah yang sedang dibahas jangan mengungkit masalah yang sudah berlalu.
    3. Pelihara sebaik-baiknya kontak fisik secara lemah lembut.
    4. Jangan menggunakan kata-kata kasar kepada anak.
    5. Hindari perkataan-perkataan seperti: "Kamu tidak seperti anak itu", "Kamu tidak akan...", "Kamu selalu...", dan sebagainya.
    6. Jangan menggunakan pernyataan yang berlebihan seperti: "Kamu seperti ayah/ibumu atau kamu menjadi anak setan...", dan sebagainya.
    7. Jangan memaki.
    8. Hindari pernyataan yang berkuasa dan tindakan. misalnya: "Kamu tidak akan mendapat uang", "Kamu tidur di sana nanti malam", "Saya benci kamu", dan sebagainya.
    9. Jangan sering berlaku diam.
    10. Katakan perasaan yang terluka sebelum melanjutkan pembicaraan tentang perselisihan.
    11. Perselisihan jangan sampai didengar oleh orang lain.
    12. Apabila terjadi perdebatan gunakan cara komunikasi yang sesuai dengan alur logika dan jangan pernah mengatakan, "Pokoknya harus begini! Titik."
    13. Jangan menyelesaikan masalah dengan sikap kalah atau menang. Gunakan cara "win-win solution" (kedua pihak menang).
    14. Cerminkan rasa hormat dalam kata-kata maupun dalam tindakan kepada anak kita.
Artikel ini saya ambil dari sebuah majalah cahya buana, edisi 92/2002

0 Response to "Membina Hubungan yang Lebih Harmonis dengan Anak Melalui Perselisihan"

Posting Komentar